TRADISI JEMBUL TULAKAN SEBUAH TINJAUAN HISTORIS
Oleh :
Yeni Murniasih, ineymurnia@gmail.com
SMA Negeri 1 Donorojo
Tradisi Jembul merupakan suatu perpaduan antara dua unsur yaitu, agama dan sejarah desa Tulakan. Tradisi tersebut diselenggarakan satu tahun sekali setiap Senin pahing bulan Apit berdasarkan penanggalan Jawa. Tradisi ini dilaksanakan dengan cara mengiring jembul ke rumah petinggi desa Tulakan. Secara historis Tradisi Jembul ini berkaitan dengan masa kerajaan Islam Demak dan perkembangan kota Jepara. Tradisi Jembul merupakan bentuk penghormatan atau perayaan atas kemenangan Ratu Kalinyamat dengan terbalaskan dendamnya kepada Arya Penangsang yang telah membunuh suaminya yaitu Sultan Hadirin,
Ratu Kalinyamat adalah putri ketiga. Ratu Kalinyamat menikah dengan Pangeran Hadirin yang dikukuhkan sebagai adipati Jepara yang bergelar Sultan Hadirin. Pada tahun 1549 Sunan Prawata raja keempat Demak mati dibunuh utusan Arya Penangsang, sepupunya yang menjadi Bupati Jipang. Ratu Kalinyamat menemukan keris Kyai Betok milik Sunan Kudus menancap pada mayat kakaknya itu. Maka, Pangeran dan Ratu Kalinyamat pun berangkat ke Kudus minta penjelasan.
Sunan Kudus adalah pendukung Arya Penangsang dalam konflik perebutan takhta sepeninggal Sultan Trenggana (1546). Ratu Kalinyamat datang menuntut keadilan atas kematian kakaknya. Sunan Kudus menjelaskan semasa muda Sunan Prawata pernah membunuh Pangeran Sekar Seda Lepen ayah Arya Penangsang, jadi wajar kalau ia sekarang mendapat balasan setimpal. Ratu Kalinyamat kecewa atas sikap Sunan Kudus. Ia dan suaminya memilih pulang ke Jepara. Di tengah jalan, mereka dikeroyok anak buah Arya Penangsang. Pangeran Kalinyamat tewas. Konon, ia sempat merambat di tanah dengan sisa-sisa tenaga, sehingga oleh penduduk sekitar, daerah tempat meninggalnya Pangeran Kalinyamat disebut desa Prambatan. Ratu Kalinyamat berhasil meloloskan diri dari peristiwa pembunuhan itu.
. Kematian Sultan Hadirin menyebabkan kedukaan yang sangat mendalam dihati Ratu Kalinyamat. Sebagai seorang istri yang setia terhadap suami, ia ingin sekali membalas kamatian Sultan Hadirin. Tapi dia hanyalah seorang wanita dan kesaktiannya jauh dibawah kesaktian Arya Penangsang. Maka timbul tekat Ratu Kalinyamat untuk memohon keadilan kepada Tuhan YME, dengan cara menyepi, menyendiri, bertapa ditempat yang jauh dari keramaian dunia, ditempat yang tenang jauh dari Kadipaten Jepara.
Ratu Kalinyamat bersumpah, tidak akan mengakhiri pertapaannya sebelum sakit hatinya terbalas. Pada suatu hari, dengan membawa perbekalan yang secukupnya, berangkatlah Ratu Kalinyamat dengan beberapa dayang kinasih dan pengawalan prajurit-prajurit kadipaten Jepara yang dipimpin oleh Ki Suta Mangun Jaya untuk mencari tempat bertapa. Dalam perjalanan rombongan itu tiba disebuah lembah perbukitan yang memiliki lima buah puncak yang kemudian disebut dengan puncak pendawa (pendawa = lima) yang lama-kelamaan menjdi puncak pendawa (berada didekat dukuh Guwo, Desa Blingoh). Setelah beristirahat ditempat itu, Ki Suta Mangun Jaya berkata kepada dua orang prajurit bahwa tidak jauh dari tempat itu, ada sebuah tempat yang baik untuk bertapa dan dua orang prajurit itupun diberi tugas untuk mencarinya. Kedua orang prajurit tersebut segera melaksanakan tugasnya, setelah beberapa lama berjalan menempuh semak belukar, melewati hutan belantara sampailah kedua orang tersebut disebuah tempat yang terdapat sebuah pohon besar yang sangat rindang dan mereka beristirahat ditempat itu, mereka hampir berputus asa karena belum menemukan tempat untuk bertapa. Tiba-tiba datang seorang kakek tua yang bernama Ki Pejing, kakek tua tersebut menanyakan siapa mereka dan apa tujuannya ditempat itu. Setelah kakek tua mengetahui tujuannya, kakek tua tersebut bersedia membantu tetapi dengan syarat, salah satu diantara prajurit tersebut harus menikah dengan putrinya. Salah satu prajurit tersebut menyetujuinya sehingga Ki Pejing kemudian menunjukkan sebuah tempat ditepi sungai kecil yang airnya jernih dan selalu mengalir sepanjang tahun. Tanah tersebut berbau harum yang dinamakan oleh Ki Pejing “siti wangi”tempat itu yang paling tepat untuk bertapa. Setelah menyetujui perjanjian itu, prajurit kembali ketempat peristirahatan Ratu Kalinyamat untuk memberitahukan keberhasilan mereka menemukan tempat untuk bertapa kepada Ki Suta Mangun Jaya.
Setelah segala sesuatunya dipersiapkan, berangkatlah kanjeng Ratu Kalinyamat bersama para pengiringnya menuju tempat pertapaan yang bernama “siti wangi” semua perhiasan dan tanda-tanda kebesaran sebagai seorang Ratu, dikumpulkan dan dimasukkan kedalam dandang tembaga yang kemudian disimpan didalam gua kecil yang berada dikaki bukit pucang pendawa. Kanjeng Ratu Kalinyamat berpakaian sebagaimana layaknya (inilah yang dimaksud: Tapa Wuda Asinjang Rikma). Setiba ditempat pertapaan, Ratu Kalinyamat memulai, dengan terlebih dahulu mandi dan bersuci di sungai kecil yang berada disamping pertapaannya. Sebelum duduk untuk bertapa Kanjeng Ratu Kalinyamat bersumpah “ora pati-pati wudhar tapaningsun yen durung kramas getihe lan keset jembule Arya Panangsang”.
Beberapa lama setelah Kanjeng Ratu Kalinyamat bertapa, terjadi peperangan diantara prajurit Pajang yang dipimpin oleh Danang Sutawijaya melawan Jipang Panolan dibawah pimpinan Adipati Jipang Panolan sendiri, Arya penangsang. Dalam peperangan itu Jipang Panolan dikalahkan oleh Pajang dan Arya Penangsang meninggal.
Ki Ageng Pemanahan teringat akan sumpah Ratu Kalinyamat, lalu ia memotong rambut kepala Arya Penangsang dan mengambil semangkuk darahnya. Setelah itu, ia menyuruh prajuritnya untuk pergi ketempat pertapaan Ratu Kalinyamat, sesampainya disana, para prajurit menghadap Kanjeng Ratu Kalinyamat dan berkata “Kanjeng Ratu Kalinyamat sesembahan kami, kami adalah para prajurit Pajang yang diutus oleh Ki Ageng Pemanahan untuk menghadap Kanjeng Ratu dan membawa kabar gembira, yaitu : pertama, Adipati Jipang Panolan, Arya Penangsang telah terbunuh dalam perang tanding melawan Danang Sutawijaya. Kedua, kami membawa darah dan rambut jambul Arya Penangsang. Ketiga, kami membawa tandu untuk Kanjeng Ratu kendarai waktu kembali ke Kadipaten Jepara. Mendengar berita itu, Kanjeng Ratui Kalinyamat bahagia dan langsung melaksanakan sumpahnya. Kanjeng Ratu Kalinyamat keramas dengan darah Arya Penangsang dan keset menggunakan rambut jembul Arya Penangsang.
Setelah selesai pertapaan Ratu Kalinyamat, masyarakat desa Tulakan mengadakan Tradisi Jembul sebagai rasa syukur terhadap alam yang dilimpahkan Allah dan sebagai penghormatan kepada Kanjeng Ratu Kalinyamat. Nama jembul berasal dari rambut jembul Arya Penangsang yang digunakan keset Ratu Kalinyamat.
Tradisi Jembul Tulakan adalah salah satu bentuk kearifan lokal Jawa yang kaya simbol. Berbagai ungkapan simbolis dalam tradisi Jembul Tulakan banyak mengandung nilai - nilai sosial budaya dan religius yang sudah terbukti sangat bermanfaat untuk menjaga keseimbangan, keselarasan kehidupan masyarakat dari waktu ke waktu serta menunjang bagi terciptanya kerukunan kehidupan dan semangat kebersamaan ditengah masyarakat. Dengan demikian Tradisi Jembul dapat dianggap sebagai bentuk pranata sosial yang tidak tertulis oleh masyarakat pendukungnya, dapat di fungsikan untuk mengatur sikap dan perilaku agar tidak melanggar atau menyimpang dari adat kebiasaan yang berlaku di dalam masyarakat.





