SMA N 1 DONOROJO GELAR PELATIHAN JURNALISTIK DIGITAL, LAHIRKAN THE YOUNG JOURNALIST KRITIS DAN KREATIF
 .jpeg")
Donorojo, 23 Oktober 2025 – Sebanyak 50 siswa SMA N 1 Donorojo, yang terdiri dari tim jurnalistik sekolah dan perwakilan kelas, antusias mengikuti pelatihan sehari bertajuk "The Young Journalist Project: Menumbuhkan Literasi Kritis dan Kreativitas Siswa melalui Produksi Berita Digital." Acara ini bertujuan untuk mengasah kemampuan literasi visual, analisis kritis, serta keterampilan produksi berita digital di kalangan pelajar.
Pelatihan yang diselenggarakan pada hari Kamis, 23 Oktober 2025, ini dibuka secara resmi dengan sambutan dari Kepala SMA N 1 Donorojo, Ibu Puji Ningrum, S.Pd., M.Pd.
Dalam sambutannya, Ibu Puji Ningrum menyampaikan harapannya agar para peserta dapat memanfaatkan ilmu yang didapatkan untuk menjadi jurnalis muda yang bertanggung jawab dan mampu menyajikan informasi yang kuat dan faktual.
.jpeg") .jpeg")
Sesi 1: Mengupas Tuntas Jurnalisme Fotografi dan Penulisan
Sesi pertama, yang bertajuk “The Story Behind The Lens: Teknik Fotografi Jurnalistik dan Membuat Tulisan yang Kuat,” menghadirkan Budi Hutomo, seorang Reporter dari stasiun televisi nasional MetroTV.
Dari pukul 09.00 hingga 12.00 WIB, Budi Hutomo membagikan wawasan mendalam mengenai bagaimana sebuah foto jurnalistik mampu "bercerita" dan memperkuat narasi berita. Para peserta diajak memahami komposisi visual, etika memotret dalam liputan, serta teknik menulis berita yang efektif, ringkas, dan persuasif. Penekanan diberikan pada pentingnya angle berita yang tajam dan validitas data.
Sesi 2: Film sebagai Sarana Mengasah Analisis KritisSetelah jeda, sesi dilanjutkan pada pukul 13.00 hingga 15.00 WIB dengan topik “Literasi Visual Melalui Film: Mengasah Kemampuan Analisis dan Kritis.” Sesi ini dibawakan oleh Faza Amalia Rizqi, Wartawan dari TVKu, yang berfokus pada pentingnya literasi visual di era digital.
Faza Amalia Rizqi menjelaskan bahwa film dan konten visual lainnya bukan hanya sekadar hiburan, melainkan juga materi kaya yang dapat digunakan untuk melatih kemampuan analisis dan berpikir kritis siswa terhadap isu-isu sosial. Peserta diajarkan cara "membaca" pesan tersembunyi, ideologi, dan perspektif dalam sebuah tayangan visual, sebagai bekal untuk memproduksi konten berita yang berbobot.
Pelatihan ditutup dengan pembacaan doa dan penutup, menandai berakhirnya inisiatif sekolah dalam menyiapkan generasi muda yang adaptif terhadap perkembangan teknologi informasi.
“Kami berharap, melalui proyek ini, siswa tidak hanya mahir membuat konten, tetapi juga menjadi konsumen informasi yang cerdas, serta mampu menyuarakan aspirasi dan berita positif dari lingkungan sekolah ke khalayak luas,” tutur Mufarih Ni’am selaku pembina ekstrakurikuler jurnalistik sekaligus panitia kegiatan.





