SUARA KEHENINGAN
Karya : Chayla Putri Leksmana
Aku berdiri di atas podium. Tanganku bergetar memegang secarik kertas berisi rangkaian kata indah yang telah meluluhkan hatiku, sejak pertama aku membacanya, dan sejak pertama aku melihatnya.
Aku menarik nafas dalam, suaraku bergetar. “Puisi ini, adalah karya seorang gadis, yang berbicara lewat goresan penanya.”
Semua mata tertuju padaku. Namun pikiranku, kembali ke perpustakaan kota kala itu. Di sanalah aku bertemu dengannya.
Perpustakaan kota selalu menjadi tempat favoritku di akhir pekan. Tempat yang sunyi, jauh dari hiruk pikuk kota yang sibuk. Dan juga, perpustakaan adalah sumber inspirasi nomor satu bagiku untuk membuat puisi baru.
Aku berjalan santai menuju meja favoritku. Bukan sesuatu yang spesial, hanya sebuah meja kayu tua di sudut perpustakaan dan dekat dengan jendela. Tidak ada yang suka duduk di sana. Hawanya aneh, kata mereka. Padahal menurutku duduk di sana sangat menenangkan. Ditambah angin yang berhembus dari jendela, terasa segar sekali.
Namun, suasana hatiku berubah ketika melihat meja favoritku kini ditempati oleh seorang gadis. Aneh sekali, tidak biasanya ada orang yang mau duduk di sana. Sudahlah, toh ini tempat umum, semua boleh duduk dimana saja yang mereka inginkan. Kenapa aku harus kesal? Akhirnya aku mengalah dan duduk di tempat yang tak jauh dari meja itu.
Tanpa sadar, aku terus meliriknya. Wajahnya yang tenang nampak anggun. Hembusan angin memainkan rambut panjangnya yang tergerai. Pena digenggamannya sibuk menari-nari di atas kertas, entah apa yang digoreskannya di sana. Cantik, hanya itu yang terlintas di benakku.
Sejak hari itu, setiap akhir pekan, aku selalu melihat sosoknya. Duduk tenang di tempat yang sama, tenggelam dalam dunianya. Awalnya, aku hanya memandangnya, menebak-nebak apa yang Ia torehkan di atas kertasnya. Namun hari itu, aku tak tahan lagi untuk tidak menyapanya.
Sunyi, hanya denting jam yang terdengar. Seperti tersihir, perlahan aku berjalan mendekat ke arahnya. Jantungku berdebar keras sekali. Padahal aku hanya ingin berbicara dengannya, kenapa aku segugup ini?
Ia masih menulis saat aku sudah berada persis di hadapannya. Aku mengetuk meja perlahan. Ia mendongak, mata kami bertemu. Ia nampak terkejut akan kehadiranku.
“Hai, namaku Bastion. Akhir-akhir ini kamu sering kesini, ya?” dengan gugup aku memulai pembicaraan. Tapi Ia hanya diam, tak menjawab sepatah kata pun. Suasana mulai canggung, apa aku salah bicara ya?
Ia mengerjapkan matanya, lalu menuliskan sesuatu di bukunya dan menyerahkannya padaku.
“_Maaf, aku tidak bisa mendengar apa yang kamu katakan. Jika ada sesuatu yang ingin kamu sampaikan, silakan tulis saja.”_
Aku terdiam. Jadi begitu, gadis ini tunarungu. Aku merogoh tasku, mengambil pensil dan buku, lalu menuliskan jawaban untuknya.
“_Aku Bastion. Kamu sering kesini akhir-akhir ini jadi aku ingin menyapamu.”_
Ia tersenyum kecil saat membaca tulisanku, dan menuliskan balasan. “_Senang bertemu denganmu, Bastion. Namaku Sora. Kamu juga sering kesini, ya?”_
_“Iya, aku kesini setiap akhir pekan. Ngomong-ngomong meja ini adalah tempat favoritku, aku sering duduk di sini, sampai kamu datang menjajah tahtaku, hahaha,”_ aku bercanda kecil dengannya.
Sora tertawa kecil. _“Begitukah? Haha... maaf, Bastion. Aku tidak tahu kalau ini tempat favoritmu. Habisnya, duduk di sini nyaman banget. Aku jadi bisa menulis puisiku dengan tenang.”_
Mataku membelalak. “_Kamu suka menulis puisi?”_ Terjawab sudah rasa penasaranku.
_“Iya, kamu mau lihat?”_ Sora menyodorkan bukunya kepadaku.
Aku jatuh hati pada puisinya sesaat setelah membacanya. Setiap kata sangat bermakna, seakan-akan hatinya yang berbicara.
Aku tersenyum hangat. Untuk pertama kalinya dalam tujuh belas tahun hidupku, aku berkomunikasi dengan seseorang, melalui tulisan. Rasanya seperti memasuki dunia yang berbeda.
Sejak itu, kami selalu bertemu di sana. Buku catatan kami kini penuh dengan tulisan. Bukan hanya puisi kami yang tertuang di sana, tapi perbincangan, candaan, dan tawa. Coretan kami berdampingan, bak dua nada yang mengalun menjadi satu irama. Setiap lembar kami habiskan bersama dalam diam. Tak ada kata yang bisa menggambarkan perasaan menyenangkan di hatiku setiap kali aku bersama dengannya.
Namun sayang, sejak peristiwa hari itu, persahabatan kami mulai luntur. Aku masih ingat saat poster pengumuman itu tertempel di papan informasi perpustakaan.
“Lomba puisi, untuk memperingati hari sahabat nasional, diselenggarakan bulan depan,” aku terpaku, membacanya berulang-ulang. Ini bisa jadi momen yang tepat untuk mengungkapkan perasaanku.
Senyumku merekah sempurna saat kulihat Sora datang dengan ceria. Kami berjalan beriringan menuju meja favorit kami.
“_Kamu kelihatan seneng banget hari ini, Bas. Apa ada sesuatu?”_ Sora langsung menuliskan pertanyaan padaku setelah kami duduk.
Aku tersenyum lebar. “_Kamu lihat poster yang dipasang di depan?”_
_“Yang poster lomba baca puisi itu? Iya aku lihat. Emangnya kenapa?”_
_“Aku ingin ikut lomba itu, Ra. Gimana menurutmu?”_
Mata Sora berbinar, senyuman terlukis di wajahnya. Ia menulis balasan dengan semangat. “_Keren banget. Aku yakin kamu pasti bisa, Bas! Puisi yang kamu bikin kan keren-keren semua._”
Aku tersenyum canggung, jatungku berdegup kencang. Perlahan aku meraih pensilku, dan menulis. “_Maukah kamu datang? Aku ingin kamu datang melihatnya, dari awal sampai akhir.”_
Sora terdiam. Semangatnya yang berkobar-kobar mendadak hilang. Ia menunduk, dan menuliskan balasan.
“_Maaf, aku nggak bisa datang.”_
“_Kenapa, Ra?”_
Sora menghela nafas panjang. Ia mulai menulis lagi, kali ini lebih lama. “_Untuk apa datang jika aku tak bisa mendengar setiap kata yang akan kamu bacakan? Ikuti saja lomba itu, kamu tak perlu mengasihaniku.”_
Amarahku memuncak. Aku tak bisa menahan diri lagi. “_Setelah semua yang kita lalui, kenapa kamu berpikir begitu? Aku selalu berusaha untuk mengerti dan memahamimu. Kenapa kamu tak mencoba memahamiku juga dan bertingkah seakan kita hidup di dunia yang berbeda?”_
Sora terdiam. Bulir air mata jatuh dari pipinya. “_Karena itulah kenyataannya. Kamu tak akan bisa memahami duniaku_, _dan aku juga tak akan pernah memahami duniamu. Maafkan aku, Bastion.”_
Ia menuliskan kalimat terakhirnya, dan berlari pergi. Meninggalkanku seorang diri dalam kebingungan dan kekecewaan. Aku meremas dadaku, menangis dalam senyap.
Dua pekan berlalu, Sora tak pernah datang lagi. Kini, aku duduk seorang diri di kursi itu. Buku catatannya yang tertinggal ada dalam genggamanku. Kenapa harus seperti ini? Semua ini salahku, aku yang memulai pertengkaran itu.
Tiba-tiba seeorang datang dan duduk dihadapanku. Aku mendongak, siapa laki-laki ini?
“Apa kamu Bastion?” tanyanya singkat.
“Benar. Kamu sendiri siapa? Dari mana kamu tahu namaku?”
Dia menyeringai. “Siapa lagi kalau bukan dari Kak Sora. Aku banyak mendengar tentangmu darinya. Namaku Hoshi, adik laki-laki Sora. Aku datang untuk mengambil barangnya yang tertinggal,” katanya sambil menunjuk buku catatan Sora digenggamanku.
Mataku membelalak, terkejut. “Sora? Bagaimana kabarnya sekarang?” tanyaku khawatir.
“Kak Sora baik-baik saja.”
“Syukurlah.”
“Apa kalian bertengkar?” tanyanya.
Aku menunduk, “begitulah.”
Hoshi menatapku lama, dan tersenyum. “Kamu tahu, sejak bertemu denganmu, Kakak tak pernah mengurung diri lagi, dan menjadi lebih ceria. Aku rasa, Kak Bastion telah mewarnai hidupnya yang sunyi.”
Aku menggeleng pelan. “Itu tidak benar. Bagaimana bisa aku mewarnai hidupnya sedangkan tak banyak yang kumengerti tentangnya?”
“Itu tidak benar. Sejak pertama kamu menyapanya, Kak Bastion telah memahami Kak Sora sepenuhnya. Siapa lagi yang mau berbicara lewat tulisan setiap waktu kalau bukan kamu? Percayalah, kamu lebih memahaminya lebih daripada yang kamu tahu.” Hoshi memegang pundakku lembut.
Aku meremas buku catatan Sora. Begitu ya? Ternyata sebesar itu arti kehadiranku bagi Sora. Kenapa aku malah jadi egois dan menjauh saat dia menghindariku? Aku mengerti, hanya ada satu cara untuk memperbaiki ini.
“Terima kasih, Hoshi. Kini aku tahu apa yang harus kulakukan.”
Dan kini, di sinilah aku berada. Di atas podium, aku berdiri dengan penuh tekad.
“Puisi ini, adalah karya seorang gadis, yang berbicara lewat goresan penanya.”
Semua mata menuju kearahku, dan semua momen yang kami habiskan bersama terlintas di kepalaku seperti irama yang tak pernah putus.
Perlahan, kedua tanganku bergerak. Jari dan pergerakan bibirku mengikuti. Aku mengisyaratkan, “Ini untukmu, dimanapun kau berada, kuharap suaraku dapat meraihmu.”
Aku menarik nafas panjang, “Suara Keheningan,” kubacakan judul puisi itu dengan lantang, “karya, Sora Volentia.”
Aku siap, inilah saatnya. Jemariku ikut menari, mengisyaratkan semua kata yang kusampaikan.
_“Hening, bukan berarti tak bersuara._
_Diam, bukan berarti tak berbicara._
_Senyapnya dunia yang kurasa._
_Tawarkan asa yang berbeda._
_Desir angin menyapa._
_Tawarkan gambaran dunia._
_Dalam hening tanpa suara.”_
Baris terakhir kuucapkan. Peluh keringat membasahi dahiku. Sunyi, tak ada satupun suara yang terdengar. Satu tepuk tangan terdengar, disusul yang lain, hingga akhirnya gemuruh tepuk tangan bergema memenuhi seisi ruangan.
Aku tercengang, dan tertawa. Senang, lega, sedih, haru, semuanya tercampur menjadi satu. Tapi, tawaku terhenti ketika kulihat sosoknya yang duduk jauh di belakang sana. Di wajahnya yang manis, terlukis senyuman yang kukira tak akan pernah kulihat lagi. Dari sana, Ia mengisyaratkan sesuatu. Nafasku tercekat, bulir air mata jatuh membasahi pipiku.
“_Aku mendengarmu, Bastion. Terima kasih, aku menyayangimu_.”
TAMAT





